Isra Mikraj: Bukan Sekadar Jalan-Jalan, Tapi Hiburan Langit Buat Kita Semua!
Images by Grup Whatsapp PPA
Sedulur PPA yang luar biasa,
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan di bulan yang mulia ini. Ngomong-ngomong soal Isra Mikraj, niki kulo paringi pengertian nggih, sebenarnya Isra Mikraj itu apa sih? Kalau secara bahasa, Isra itu perjalanan malam, sementara Mikraj itu artinya "anda" atau tangga—alat buat naik. Jadi, kalau ada yang jalan malam-malam bawa tangga, nah itu lagi simulasi Isra Mikraj, hehe.
Tapi, tahukah jenengan kenapa Kanjeng Nabi Muhammad SAW diperjalankan sejauh itu?
Kanjeng Nabi Lagi "Susah Mboten Karuan"
Ternyata, latar belakang Isra Mikraj itu karena Nabi Muhammad lagi sedih banget, atau yang kita kenal sebagai Amul Huzni. Bayangkan, dakwah di Mekah 13 tahun ditolak terus, malah diboikot di Kampung Syi'ib sampai dilarang belanja ke pasar.
Sudah begitu, Nabi kehilangan dua "benteng" utamanya: paman beliau, Abu Thalib, yang selalu pasang badan kalau Nabi mau diganggu, dan istri tercinta, Siti Khadijah. Beliau ini luar biasa, totalitas hartanya habis buat perjuangan Nabi. Nabi sempat mencoba "healing" ke Thaif, tapi di sana malah dicaci maki dan dilempari batu sampai berdarah-darah.
Melihat kekasih-Nya sedih begitu, Allah SWT nggak tega. Allah mengutus Malaikat Jibril buat ngajak Nabi "jalan-jalan". Istilahnya, kalau istri jenengan lagi sumpek di rumah, ya diajak jalan-jalan malam biar hatinya senang, nggih toh?.
Oleh-oleh "Becak Angkasa" dan Rahasia Kata I-S-L-A-M
Nabi naik menembus langit sampai Sidratul Muntaha pakai sarana yang luar biasa (kalau kita bayangkan kerennya kayak "becak angkasa") untuk bertemu Allah. Pulang-pulang, Nabi nggak tangan kosong. Beliau bawa oleh-oleh utama, yaitu Salat Lima Waktu.
Mandat salat ini bukan cuma buat Nabi saja, tapi buat kita umatnya juga. Pentingnya salat ini bahkan sudah dirangkum dalam nama agama kita, I-S-L-A-M, yang ternyata singkatan dari waktu salat:
- I – Isya
- S – Subuh
- L – Luhur (Zuhur)
- A – Asar
- M – Magrib.
Jadi kalau ngaku Islam tapi nggak salat, itu namanya "ngingkari" oleh-oleh dari langit.
Islam Masuk Jawa: Jeniusnya Wali Songo
Sedulur, kita harus bersyukur punya Wali Songo. Beliau-beliau ini jenius karena membungkus Islam dengan budaya Jawa. Kalau dulu Islam dipaksakan harus persis kayak di Arab—pakai jubah atau bahasa yang susah—mungkin Islam "ora payu" (nggak laku) di Jawa.

Wali Songo mengubah istilah agar lebih akrab di telinga kita:
- Salat jadi Sembahyang.
- Musala jadi Langgar. Cuma di Indonesia "Salat boleh di-Langgar," maksudnya salat di mushola, hehe.
- Sya’ban jadi bulan Ruwah.
Bahkan surat Al-Fatihah pun dibuatkan Suluk (syair Jawa) supaya orang Jawa yang lidahnya susah ngomong bahasa Arab tetap paham artinya. Contohnya: “Kanthi nyebut ing asmane Gusti Allah ingkang maha mirah, maha asih ing sejatine”.
Pesan di Bulan Ruwah: Jangan Cuma "Ngumat Kuburan"
Sekarang kita masuk bulan Ruwah (Sya'ban). Kata "Ruwah" itu dari kata Arwah. Pesan moralnya: kita harus "ngumat arwah" alias merawat jiwa leluhur kita.
Caranya gimana? Ya dikirimi doa! Baca Fatihah atau Qulhu (Al-Ikhlas). Jangan sampai pas nyekar ke kuburan cuma sibuk bawa pacul buat bersihin rumput atau malah asyik selfie terus di-upload ke Facebook, tapi lupa kirim doa. Itu namanya cuma "merawat kuburan," bukan "merawat arwah".
Kesimpulannya, Peringatan Isra Mikraj ini adalah momen buat membangkitkan iman kita lagi. Kalau kita yakin Nabi sudah berjuang sampai ke langit, maka pembuktian cinta kita cuma satu: Jalankan Salat Lima Waktu.
Mugi-mugi kita semua termasuk golongan orang yang istiqomah salatnya, dan putra-putri kita dadi bocah yang saleh-salehah. Amin!.
Dikutip dari tausiyah Kyai Nadzirin khas yang penuh hikmah dan canda tawa.
.png)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

Komentar (0)
Posting Komentar